Friday, June 9, 2017

Pengertian Paham Naturalisme

Pengertian Paham Naturalisme - Naturalisme mempunyai beberapa pengertian, yaitu :

Dari segi bahasa, Naturalisme berasal dari 2 kata, yakni :
Natural               : Alami
Isme                   : Paham

Sehingga, aliran Naturalisme dapat juga disebut sebagai Paham Alami. Maksudnya, bahwa setiap manusia yang terlahir ke bumi ini pada dasarnya memiliki kecenderungan atau pembawaan yang baik, dan tak ada seorangpun terlahir dengan pembawaan yang buruk.

Naturalisme merupakan teori yang menerima “nature” (alam) sebagai keseluruhan realitas. Istilah “nature” telah dipakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti, mulai dari dunia fisik yang dapat dilihat oleh manusia, sampai kepada sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang diungkapkan kepada kita oleh sains alam. Istilah naturalisme adalah kebalikan dari istilah supernaturalisme yang mengandung pandangan dualistik terhadap alam dengan adanya kekuatan yang ada (wujud) di atas atau di luar alam ( Harold H. Titus e.al. 1984).

Salah satu problem yang dihadapi oleh manusia modern, terutama para ilmuan adalah; apakah agama bisa sejalan dengan teori-teori ilmiah ? sebab, Ilmu menekankan pembahasan pada alam fisik, sedangkan agama pada hal yang diluar fisik. Ilmu menyelidiki yang Natur, sedangkan agama Supernatur.  Ilmu tidak dapat tersusun kecuali atas dasar hukum alam yang tetap.

Menurut Naturalisme, alam ini berdiri sendiri, serba sempurna, beredar dan beroperasi menurut sifat-sifat yang terdapat dalam dirinya sendiri, menurut tabiat atau Naturnya, menurut sebab dan musabab. Alam ini tidak berasal dan tidak bergantung pada kekuatan gaib atau supernatural. Paham naturalisme ini timbul setelah ilmu pengetahuan tentang alam bertambah maju dan para ahli ilmu alam melihat bahwa alam ini berevolusi dan bergerak menurut peraturan tetap, dengan kata lain menurut mekanisme tertentu. Dengan dijumpainya, menurut naturalisme tak ada lagi misteri diatas dunia ini.

Jadi, masa depan ditentukan dari sekarang oleh hukum-hukum alam yang  tak berubah-ubah itu. Di atas, hukum-hukum alam ini tidak ada lagi sesuatu yang lebih tinggi, sesuatu yang supreme. Seseorang naturalis diabab ke 19 mengatakan bahwa ia telah menyelidiki langit dengan teleskopnya, tetapi ia tak menemukan Tuhan. Lalu faham naturalism ini seterunya meningkat pada ateisme. Ateisme ialah kepercayaan bahwa Tuhan tidak ada.

Dari sini, Aristoteles memberi ilustrasi dari pengertian keempat sebab sebagai berikut: Sepasang sepatu terdiri dari empat sebab ; sebab materi, yaitu kulit sebagai bahan dasar; sebab formal, yaitu bentuk sepatu; sebab efektif, yaitu tukang sepatu; sebab tujuan, yaitu tujuan untuk alas kaki. Jadi keempat sebab ituharus ada dalam sepatu. Kalau keempat sebab itu tidak ada, maka sepatu tidak bisa dibuat. Dari demikian Aristoteles meberikan kesimpulan; bahwa pembuatan sepatu ada sebab musababnya dan begitu juga bagi alam, secara keseluruan nya mempunyai sebab musababnya tadi.

Lalu dari sana, baik ilmu maupun agama menganjurkan memperhatikan alam. Hanya saja bagi penganut naturalisme, alam dijadikan sebagai objek kajian untuk menetapkan teori-teori ilmu, sedangkan para teolog, alam dijadikan sebagai kajian untuk mempertegas wujud dan kebesaran Tuhan. Strutur ilmiah menurut keokjektifan, teruji, terbukti, dan pasti, ada pun strutur Agama menurut keyakinan( bersifat subyektif)dan tidak perlu dibuktikan, tetapi dapat diperkuat oleh argument rasional. Ukuran ilmu dan agama juga berbeda, ilmu ukurannya salah dan benar sedangkan agama ukurannya iman dan kafir.

Perbedaan pandangan yang diadakan dalam naturalisme mengenai umum dari alam, yaitu ;

1. Naturalisme Reduksionistik

Yang didominasi selama 17, 18, dan 19 abad, menyatakan bahwa semua benda alam direduksi untuk objek yang ditandai dengan ilmu fisik nature. Alam merupakan sistem yang ditentukan, dan manusia sebagai bagian dari alam yang ditentukan.

2. Naturalisme Kontemporer

Menyatakan bahwa, semua benda yang berpengalaman dan kualitas sama-sama nyata dalam alam. Sebagai bgian dari alam,manusia nyata spontanitas dan kebebasan. Metode ilmiah sebagai metode penyelidik alam adalah cara menangani setiap konten yang menyatakan dirinya di dalam alam.

3. Naturalisme dalam Pendidikan Islam

Al-Qur’an berulang kali menyuruh bertafakur dan bertadabbur mengambil hikmah dari penciptaan makhluk-makhluk yang ada di jagad raya (universe) ini. Melalui tafakur dan tadabur terhadap ciptaan Tuhan di jagad raya, manusia akan mengenal tempatnya dengan baik di antara makhluk-makhluk ciptaan Tuhan. Pengenalan terhadap posisi manusia di antara makhluk-makhluk-Nya ini yang oleh Muhammad Fadil al-Jamali dimasukkan sebagai salah satu tujuan pendidikan dalam Islam.

Dalam perspektif Al-Qur’an, alam diciptakan untuk manusia dan salah satu misi diciptakannya manusia adalah untuk mengelolah dan memakmurkan alam dengan sebaik-baiknya. Tugas ini merupakan bagian dari bentuk pengabdian manusia sebagai khalifah kepada penciptanya. Agar dapat mengolah dan memakmurkan alam, manusia perlu mengalami proses pendidikan, di mana alam telah menyediakan beragam fasilitas untuk kepentingan pendidikan ini.

Apa saja yang disediakan alam dapat difungsikan sebagai materi ajar atau sumber belajar sekaligus sebagai media pembelajaran. Dalam surah Ali Imran (3)  ayat 190 – 191 Allah berfirman:

Artinya : “Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi dan perbedaan malam dan siang merupakan tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau sedang berbaring dan memikirkan penciptaan langit dan bumi…” (Q.S. Ali Imran (3) : 190-191)

Langit, bumi, siang dan malam disebut sebagai tanda-tanda atau ayat-ayatNya. Begitu juga apa saja yang ada di alam merupakan tanda-tanda akan kekuasaan dan adanya Allah. Untuk mengenal Allah sebagai pemilik alam, jalan yang paling dekat adalah dengan mempelajari tanda-tanda Allah di alam tersebut.

Syekh Makarim al-Syirazi dalam tafsir al-Amtsal ketika menafsirkan kalimat rabbul ‘alamin mengatakan bahwa rububiyatullah thariqun li ma’rifatillah. Salah satu jalan untuk mengenal Allah adalah dengan memperhatikan (mempelajari) bagaimana Allah menciptakan dan memelihara alam semesta. Allah mendidik manusia agar mempelajari bagaimana Allah menciptakan dan memelihara makhluk-makhlukNya yang bertebaran di jagat raya ini.

Studi terhadap makhluk-makhluk Allah di jagat raya (universe) ini telah terbukti mampu melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan yang ada saat ini. Dalam konteks aliran filsafat pendidikan Naturalisme, pengenalan siswa secara langsung terhadap alam dengan berbagai bentuknya, akan melahirkan pemahaman yang jauh lebih baik terhadap obyek yang dipelajari dari pada membaca buku di dalam kelas.


Demikianlah penjelasan lengkap tentang Paham Naturalisme, semoga saja bermanfaat.